Harusnya teori simulasi yang saya dengar semalam bisa diaplikasikan tidak hanya dalam terapan keilmuan. Representasi citra harusnya tidak dijadikan topeng untuk bertindak, bersosialisasi atau mengeluarkan pernyataan. Parahnya sudah kampanye perang pun telag ditabuh alhasil semua siap untuk berperang, jadi kalau diibaratkan perang dengan melibatkan ribuan bahkan jutaan orang sudah pastilah semua menggunakan baju besi dan pelindung kepala dari baja. Ya...tidak terlihat bagian mana lagi yang original dari bentuk tubuh manusia semua memproteksi diri masing masing demi keselamatan. Usaha usaha demikian lazim untuk mempertahankan diri, sekali lagi demi citra yang baik, putih, suci layaknya malaikat.
Raut wajah hingga senyuman pun ternyata sama langkahnya, tangis dan senyum tak ada bedanya lagi semua adalah representasi dari niatan busuk bukan apa adanya. Bagaimana bisa kebohongan daun raut wajah serta perilaku tidak sama lagi, jika ditanya kepada otak mungkin dia akan memilih untuk meninggalkan jasad manusia manusia palsu. Sekedar sapa dan tanya kunjung tak bernilai apapun lagi selain sebuah citra, tidak ada ketulusan yang bisa menggenggam lagi, semua dalam dompet citra dan tabung reaksi kimia senyum.
Gambar mengajarkanku banyak hal aktivitas preview menjadi obat penawar kekecewaan yang besar akan sebuah kepalsuan yang terus menerus kolosal dalam sebuah dunia yang penuh tangah dan bau badan manusia.

Comments
Post a Comment